Rabu, 21 Juli 2010

PENGARUH ETOS KERJASAMA TERHADAP SUKSES ORGANISASI

E. M. Marshall dalam sebuah kata pengantar dari buku karangan beliau sendiri yang berjudul Transforming The Way We Work: The Power of Collaboration Workplace

, Library of Conpress Cataloging in Publication Data, Marshall, Edward M, 1946, terjemahan edisi Indonesia PT. Hallirang, Jakarta 1996, dikatakannya bahwa:

……….. Akan seperti apa dunia kerja, seandainya kita saling menghargai? Sejauhmana efektifnya tempat kerja seandainya kita tahu kiat-kiat bekerjasama? Sejauh mana efisiennya bisnis kita kalau memanfaatkan produktivitas laten angkatan kerja? Barangkali bangsa kita maju kalau kita belajar memanfaatkan kreativitas dari tempat kerja kita demi keuntungan kompetitif dan jadi tokoh dunia..............................................

Selanjutnya beliau memaparkan betapa optimisme akan perubahan kearah yang lebih baik dari setiap kondisi ruang perjuangan ditempat kerja akan menghasilkan karya-karya yang besar, dan mendunia.

Selain beliau tokoh pemikir ”bagaimana mengatur diri untuk lebih baik dari waktu ke waktu” seperti Trump dan Bill Zanker (2008) juga mengumandangkan point-point yang sama. Semua bermuara pada bagaimana bersikap positif dalam menggali potensi dan menghalau segala rintangan dengan berjalan lebih jernih dan baik menuju tujuan yang hendak dicapai.

Menghadapi tantangan pendidikan kita dewasa ini, mengharuskan kita mencoba untuk mengevaluasi kembali apa saja yang harus ditata ulang kedepan. Kata-kata kunci dalam suatu tatanan organisasi yang harus dibangun dalam konsep kerja adalah: saling menghargai, efektifnya tempat kerja, kiat-kiat bekerjasama, produktivitas laten angkatan kerja, berpikir maju, belajar memanfaatkan kreativitas, meraih keuntungan kompetitif dan menjadi tokoh dunia; semua itu disikapi secara optimis untuk menjadi selalu lebih baik dari waktu-ke waktu.

Adapun aspek penting yang perlu dibangun dan mempunyai esensi kebaikan yang mendasar diantaranya adalah:

Saling Menghargai

Konsep ini paling mudah, tetapi paling sulit. Kecenderungan kita untuk minta dihargai lebih besar dari pada kecenderungan kita dalam memberikan penghargaan terhadap orang lain. Sehingga kita lebih mudah melihat kesalahan atau kekurangan pihak lain dari pada mencoba menghargai kelebihan atau upaya perbaikan yang dilakukan orang lain. Padahal dengan memberikan penghargaan pada pihak lain apakah bawahan/atasan atau sejawat, tidak akan mengurangi postur diri apalagi merugikan kita, yang ada malah sebaliknya, menghargai orang lain, merupakan penghargaan untuk diri kita sendiri. Jika anda sebagai atasan memberi salutation pada bawahan, maka bawahan anda merasa mendapat perhatian anda dan tentunya membawa dampak pada kinerjanya kelak; jika anda sebagai bawahan memberi penghargaan pada atasan, hal yang lumrah namun tetap dapat berdampak positif pada diri anda dan atasan anda. Jika penghargaan disematkan pada teman sejawat, maka anda menghargai diri anda sendiri, karena sejawat anda adalah rekanan anda dan mereka adalah anda. Jadi, saling menghargai dalam organisasi pendidikan, merupakan keniscayaan yang mudah namun memang sulit jika bukan merupakan kebiasaan/kewajaran, namun akan menjadi suatu kewajaran jika penghargaan memang merupakan budaya yang tetap dihidupkan. Kuncinya, anda menghargai pihak lain, maka otomatis oranglain akan menghargai anda.

Efektifnya tempat kerja

Berbahagialah jika anda merasakan bahwa pekerjaan anda adalah dunia anda. Tanpanya anda tak merasakan apa-apa. Sehingga dalam keseharian kita tugas-tugas bukan beban, tetapi merupakan kegiatan sehari-hari yang diyakini menghasilkan sesuatu yang akan membawa dampak positif pada diri sendiri, orang lain, dan lingkungan. Tempat kerja merupakan lahan karya untuk mencipta karsa yang tinggi. Melahirkan rasa cinta akan dunia kerja kita, dan menghargai hasil kerja kita dan paling penting selalu berpikir untuk lebih baik dari yang sebelumnya, dalam segala bentuk kebaikan, merupakan hal yang mudah namun sulit untuk mengapresisasikannya. Tetapi harus tetap dicoba dengan berawal dari membangun paradigma berpikir kita, bahwa tempat kerja kita adalah dunia kita dan masa depan kita.

Pendidikan bukan pekerjaan biasa. Tugasnya bukan tugas biasa. Kerjanya bukan kerja biasa. Mereka menghantarkan manusia pada jenjang yang lebih tinggi pada tataran hidup yang sesungguhnya. Kualifikasi manusia terdidik atau tidak terdidik ada ditangan mereka, sehingga menjadikannya memang luar biasa. Beda dengan media tugas lainnya, sehingga wajar jika mereka harus berkiprah pada potensi humanity yang lebih kompleks dan lengkap, dari pada gugus tugas lainnya. Untuk itu tempat kerja mereka harus merupakan media yang efektif untuk menghasilkan mutu pendidikan yang diharapkan.

Kiat-kiat bekerjasama

Setiap organisasi selalu mengarahkan pada sistem kerjasama yang efektif dan efisien dalam mencapai tujuan organisasi. Sederhananya, pekerjaan seberat apapun akan menjadi ringan jika dikerjakan secara bersama-sama, dan itulah dinamika organisasi. Ciri khusus dari mereka yang memang maju bersama organisasinya, maka ia menjadi organisatoris, yang bisa bekerjasama dengan siapapun dan mampu berkolaborasi dengan efektif dan efisien. Sehingga dalam menggalang kerjasama dengan pihak lain tidak mempunyai kendala. Baik skala internal maupun eksternal. Menggalang kerjasama memang bukan pekerjaan mudah tetapi juga tidak sulit. Jadi, kiat khusus yang diperlukan hanyalah, kemampuan berkomunikasi dalam menyampaikan aspirasi, menggalang aspirasi, menyuguhkan aspirasi dan merefleksikan aspirasi, merupakan pedoman utama dalam hal ini.

Produktivitas laten angkatan kerja

Kekuatan paradigma berpikir positif dan senantiasa ingin lebih baik melahirkan energi yang membangun sendi-sendi dasar naluri untuk terus lebih baik. Jika sebagai karyawan atau apapun predikat dalam bidang tugas kita, maka produktivitas laten angkatan kerja (nilai produktivitas dari setiap angkatan kerja bergrafik naik, tidak sebaliknya), sehingga akan menghasilkan angkatan kerja yang terus berproduksi semakin tinggi dari waktu kewaktu. Angkatan kerja yang energik dan kreatif akan menjadi andalan organisasi dalam meningkatkan kinerjanya.

Berpikir maju

Belajar memanfaatkan kreativitas

Meraih keuntungan kompetitif

Menjadi tokoh dunia

Banyak orang yang berasumsi bahwa menjadi tokoh dunia, adalah mereka yang dikenal oleh seluruh dunia. Padahal jika kita menyimak dengan seksama, maka setiap anak manusia yang terlahir didunia ini, maka potensi menjadi tokoh dunia. Jika sebuah pranata telah ditangan, sebagai ayah, ibu, kakak, adik, istri, suami, guru, kepala sekolah, dan lain-lain predikat yang disandang, maka jadilah ia seorang tokoh dunia yang mengisi peradaban zaman. Dengan demikian setiap anak manusia memahami potensi predikat yang dimilikinya, dan apapun predikat yang dipegangnya, tentu akan berupaya menjadi yang terbaik

Saya sering berpikir kondisi manusia salah satu konflik yang dikondisikan dan rumor bahwa ”kita tidak akan pernah menemukan damai didalamnya dan diantara kita-kita sendiri”. Saya tak mau mengalah dengan kesimpulan ini. Ada jalan keluar! Tujuan hidup kita adalah menemukannya.

Memasuki dekade abad 21, saya yakin kita berada dipersimpangan jalan yang kritis. Kita menghadapi paradoks fundamental mengenai kondisi manusia. Pada satu sisi, kita sedang meningkatkan kemampuan untuk membebaskan diri dari kekuatan yang memperbudak kita semua, kemiskinan, perang, kelaparan dan penyakit. Disisi lain, kita tetap korban dari kekuatan yang sama.

Perang dingin sudah berakhir dan negara yang bertikai sedang mencari jalan untuk berunding, namun krisis baru nampaknya muncul begitu krisis lama berakhir. Revolusi teknologi lebih banyak memberi waktu untuk berfikir kreatif mengenai diri sendiri dan dunia, padahal inovasi dan pola konsumsi mengancam struktur ekosistem yang gampang terganggu. Revolusi sosial telah menimbulkan tingkat kebebasan dan kesadaran pribadi yang baru, tetapi gara-gara unit keluarga dan rasa sosial kita bobrok, kita mempelajari pentingnya nilai-nilai dasar sebagai alat stabilisator. Ilmu ekonomi pasar bangsa Amerika yang unggul telah menghasilkan kemakmuran yang belum pernah terjadi sebelumnya dan contoh perkembangan yang menjadi kecemburuan dunia, namun nyaris separuh penduduknya buta huruf, jurang pemisah antara sikaya dan simiskin makin melebar, gelandangan-gelandangan tidur kelaparan disamping Gedung Putih. Di tempat kerja, efisiensi modal mesin organisasi Era Industri menimbulkan resah rasa takut dan tunduk pada era Informasi, mengurangi kreativitas, produktvitas dan sisi kompetitif angkatan kerja.

Apakah kita punya kemampuan menghadapi paradoks ini? Apakah kita bisa memikul beban diri kita sendiri? Apakah kita bisa melihat sindiran itu apa adanya dan belajar mentertawakan diri sendiri ketika belajar kiat mengatasi beban tersebut?

Saya yakin kita mampu dan harus mampu, karena itulah saya menulis buku ini. Saya terpaksa melakukan perjalanan dan menahan rasa sakit yang ditemui ditempat kerja. Kita sama-sama mencari jalan untuk menyingkap tabir guna membangun dan meningkatkan hubungan kerja sehingga bisa saling jujur dan benar, belajar saling mempercayai dan mentransformasi pekerjaan menjadi tempat untuk bisa memberi kontribusi, berperan, belajar dan berkembang.

Lalu kenapa mesti optimis? Apa gerangan yang membuat saya berpikir bahwa kita bisa menciptakan kepercayaan ditempat kerja? Dengan seluruh penekanan pada pengurangan biaya dan penyusutan karyawan, bukankah dunia kerja hanya sekedar dimensi lain paradoks itu? Apakah optimisme saya hanya sekedar bentuk lain khayalan diri? Saya kira tidak demikian.

Saya memahami akan keampuhan perjuangan hidup setelah selamat dari polio dalam usia satu tahun. Saya tahu bahwa optimisme adalah cara saya mengatasi yang tidak bisa ditolerir. Saya tahu, saya bertanggungjawab atas apa-apa yang terjadi pada diri saya; saya tidak bisa menyalahkan orang lain. Seandainya bencana dihadapan saya, tanggungjawab saya adalah melakukan apa-apa yang bisa saya lakukan untuk menghentikannya. Saya percaya Tuhan akan memberkati saya serta kita semua dan dengan kemampuan kita sebagai manusia untuk bertahan hidup dalam menghadapi cobaan- kalau kitanya mau. Masalahnya apakah kita mau dan bertanggungjawab atas akibatnya? Inilah masalah utamanya................................................ .

Petikan panjang diatas mengawali tulisan ini karena masih relevan dengan kondisi sekarang yang ternyata sudah terbaca 13 tahun sebelumnya oleh pakar ekonom Amerika tersebut, yang mempunyai vision yang cukup jeli, sehingga jeritan hati 13 tahun lalu masih kompromis dengan kondisi real kita sekarang ini.

Dengan berkiblat pada masa depan, maka kemungkinan perubahan akan tetap mengalir deras dari waktu ke waktu. Merubah kondisi, dimulai dengan merubah paradigma, kemudian perubahan paradigma melahirkan perubahan gerak dan perilaku. Begitu pulalah yang terjadi diseputar kita, namun yang menjadi masalah adalah siapa yang mempunyai predikat perubah perilaku dan siapa yang berpredikat sebagai obyek yang dirubah perilakunya, jika ditinjau dari aspek kerjasama kelompok dari suatu tim kerja dalam sebuah organisasi berangkat dari perubahan paradigma yang diinginkan.

saling menghargai

efektifnya tempat kerja

kiat-kiat bekerjasama

produktivitas laten angkatan kerja

maju kalau kita belajar memanfaatkan kreativitas

keuntungan kompetitif

jadi tokoh dunia

Tidak ada komentar:

Posting Komentar